Senin, 24 September 2018

Namaku 'Kampanye Damai'

Kemarin saya ditabiskan dengan nama baru. Panggil saja saya 'kampanye damai'. Sebuah nama yang diberi oleh para petinggi bangsa. Ya, mereka yang berkuasa dan bertahta di singgasana bernama ketua ketua parpol. Mereka yang bernama Ka Pe Uh. Mereka yang bernama calon presiden dan wakil presiden. Mereka yang bernama rakyat. 

Saya agak heran, mengapa mereka memberikan saya nama yang mulia itu. Tapi namaku itu hanya berlaku sampai pertengahan, tepatnya belasan April 2019. 

Lho, kalau nama kan harus sampai mati? Tanya cangkir kopi pahit yang sedang asyik bertengger diatas meja kerja saya. 

Namaku kampanye damai. Begitulah mereka meneriaki namaku diatas panggung pementasan teater mereka. Karena mereka pandai berakting, bermain peran, pintar mengolah vocal, kadang bernyanyi andante, maestoso, kadang bertemakan lagu lagu mars yang dibubuhi bumbu crescendo dan decrescendo. 

Mereka pintar menyanyi, memang. Itulah keunggulan mereka. Lihat saja kemarin diatas panggung. Sambil cengangas-cengingis, mereka membaca sabda sabda kudus dari namaku itu. Ada satu dua yang serius. Itu barisan paling depan. Mungkin mereka membawakan canctus firmus. Yang barisan belakangnya adalah koor-nya. Rame, dengan suara yang tanpa teknik tinggi. Intinya mereka bernyanyi. 

Bernyanyi tentang namaku. Sebenarnya tidak usah dibabtis namaku, apabila itu hanya sebatas beberapa bulan saja. Mereka pikir umurku hanya beberapa bulan itu. Setan! Aku mau hidup 1000 tahun lagi di tanah tercinta ini. Aku ingin namaku dinyanyikan oleh rakyat se Indonesia Raya ini. Bukan hanya mereka mereka yang dipanggung itu. 

Asli, suara mereka buruk. Mungkin busuk. Tapi manis menyanyikan sabda sabda namaku. Aku hanya ingin namaku dinyanyikan mereka yang ada di tanah suci. Bukan disana. Tetapi disini. Tanah yang subur. Negeri elok amat ku cinta. Tanah tumpa darah yang mulia. Nyiur melambai disana. 

Jangan panggil namaku kuat kuat, kalau itu hanya untuk beberapa bulan saja. Itu haram namanya. Apalagi untuk tipu tapu belaka.

Saya mau tetap panggil saya, sampai para komponis menemukan lagu baru pengganti narasi sabda ini. Sampai mereka meneriaki namaku dengan tanpa kata. 

Hanya dengungan angin dalam syair melodi dan harmoni. Tak perlu kau teriaki di panggung itu. Tipu muslihat! Cukup kau nyanyi sendiri di depan lilin bercahayakan warna pelangi. 

Untuk damai Indonesia Raya. Kalau luhur tujuanmu. Silahkan panggil namaku. Walau umurku sehari saja. 

Namaku kampanye damai. Jangan kau nyanyi di panggung itu! 

*** 

(Catatan lepas ketika kemarin menonton deklarasi kampanye damai di televisi swasta)



Kamis, 30 Agustus 2018

YANG MULIA, YANG MULAI

mulia
mulai

mulia apa?
mulai apa?

supaya apa?


Saya agak heran-bila menonton televisi-saya sampai memukul jidat berkali-kali. Ada-ada saja tingkah para petinggi, tuan 'yang seharusnya ditiru' di negeri yang raya ini. Bahkan hampir setiap bulan, KPK selalu berhasil 'menjereat' tuan-tuan besar ini. Ya, tentunya bukan jerat milik KPK yang salah, tetapi karena jalan tuan-tuan itu yang 'sengaja' ingin mencari dan masuk ke jerat KPK yang telah lama menanti kedatangan mereka.

Tentang jerat-kalau dihubungkan dengan hama perusak tanaman-memang sengaja dipasang untuk menunggu bahkan sampai mematikan hama itu. Seingat saya, di kampung halaman (belasan tahun lalu) kala musim panen tiba, kami selalu turun ke sawah untuk memasang jerat. Biasanya mencari jalan lebuk* (model jalan kecil bekas hama melintas), dan memasang jerat disana. Karena sudah keasyikan 'mencuri', otomatis setiap hari hama itu melintasi jalur itu. Tanpa beban. Mungkin mereka sambil bersiul-siul, menyanyikan lagu-lagu band jaman sekarang. Atau mungkin berdendang lagu official theme song Asian games 2018, Meraih Bintang, yang dinyanyikan Via Valen. Hehehe....
Eits... ternyata jerat sudah menanti! Jepreeettttt.... Mati kau!

KPK melakukan OTT di Medan (Selasa 28/8). Dan tidak tanggung-tanggung, korban jeratan mereka adalah tuan 'yang mulia', siapa lagi kalau bukan tuan hakim (inisial M) dan 8 orang lainnya. Yah... kalau hakim saja berbuat seperti itu, siapa lagi yang berani menjaga UUD 1945? Siapa lagi yang seharusnya menegakkan Pancasila? kalau bukan tuan-tuan itu. Mungkin dengan label yang mulia, mereka merasa diri hebat dan berpeluang untuk melakukan apa saja. Karena menurut mereka, apa yang mereka kerjakan itu, mulia adanya.

Selai hakim, sebenarnya banyak yang harus kita gelar yang mulia. Misalnya pimpinan DPR (mantan pimpinan, wkwkwk), anggota DPR, para menteri, para Gubernur, Bupati, dan pekerjaan 'terhormat' lainnya. Tetapi kenyataannya mereka selalu mulai untuk melakukan 'kejahatan akut' dengan memakan dan mengunyah apa yang sebenarnya bukan masakan dan makanan mereka. Itulah 'dewa perakus', selalu ingin milik orang lain dengan semena-mena.

Yang mulia-mulia itu selalu memulai. Mulai melakukan tindakan korupsi, kolusi, ataupun nepotisme. Sangat najis dan haram perbuatan itu, tetapi selalu dilakukan. Mungkin mereka selalu meyakini bahwa apa yang mereka lakukan, sangat mulia dimata Tuhan dan sesama.

Sambil nyanyi-nyanyi, lompat-lompat, mereka melewati jalan lebuk. Siul-siul.... dan jepreeeetttt... mati kau, masuk jerat yang dibuat seluruh rakyat Indonesia.


Lu mau lewat diamana lai, kalo yang beking jerat seluruh rakyat Indonesia. 
Lu mati mampos disitu, sonde bisa cari lebuk laen lai. Jepreeettt.....


foto diambil dari kompasiana.com

yang mulia
sebaiknya harus selalu mulai
melakukan kebaikan-kebaikan
semisal kejujuran
keadilan sosial
kedamaian
dan
mulai
ber
to
bat!






ket:

*lebuk: Istilah bahasa mbaen, bahasa etnis yang mendiami locus sekitaran Manggarai bagian Timur, berbatasan dekat dengan Kabupaten Ngada, tepatnya kampung Waerana dan sekitarnya. Lebuk adalah jalan (lorong) kecil diantara semak-semak, bekas dirintis oleh para hama pemakan tanaman, semisal Tikus, Babi hutan, dsb.

Senin, 27 Agustus 2018

PADUAN SUARA, PA(n)DUAN HIDUP (1)

''...mungkin mereka hanya fokus bernyanyi. Mungkin juga hanya untuk sensasi. Ada yang ikut ramai, supaya dibilang punya naluri? berjiwa seni?
ah... entahlah"



Kemarin, 27 Agustus 2018, Paduan Suara (PS) Green voice SMA N 4 Kupang kembali berlatih. 'Untuk sementara', paduan suara ini menjadi urutan I, rangking perlombaan PS semester lalu, tingkat SMA se-Kota Kupang. Ekstrakurikuler ini mulai kami tekuni dengan baik sejak 5 tahun yang silam. Ya, waktu yang sangat panjang, (waktu berproses-menempah hingga juara) semenjak saya menginjakkan kaki, meneteskan keringat, dan 'melampaiskan emosi' di tempat itu.
Saya memang sangat mencintai bidang ini. Musik, baik vokal maupun instrumental, sudah menjadi hobi yang mendarah-daging dalam keseharian saya. Selain senang berkespersi lewat media musik, akan ada 'bayaran' setimpal atas karya dan pengabdian kita. Seperti kata Pak Ridwan Kamil, ''...pekerjaan yang paling enak itu adalah hobi yang dibayar''. Eits...., kok bahas tentang uang, ya? Bukan!

Menekuni dan membagi ilmu PS kepada para siswa adalah pekerjaan yang istimewa. Karena menurut saya, itu pekerjaan mulia. Kita bisa memberikan dan mengajarkan keindahan serta kembali mendapatkan (mempertontonkan) keindahan itu. Artinya, seluruh teknik dan unsur berpaduan suara (musik-red.) , hanya semata-mata untuk membuat lagu dan tampilan lagu itu menjadi indah. Sungguh luhur, bukan? Apabila hampir setiap hari merasakan keindahan. Itulah pelampiasan emosi yang sesungguhnya. Mengerjakan keindahan, dan mendapatkannya kembali. Bisa dua kali lipat, ataupun bisa juga tidak sama sekali, siap terima, karena itu juga bagian dari keindahan, wkwkwk...

Namun, keindahan yang sangat luhur ternyata bukan dari aspek lagu dan tampilan lagu saja. Menurut pengamatan dan pengalaman saya, keindahan paling luhur dan istimewa adalah terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku ketika telah berlama-lama menjadi anggota PS. Apakah bisa?

Ada yang paling spesial dalam berlatih paduan suara. Bagi PS Green Voice SMA N 4 Kupang, pendidikan karakter menjadi hal yang pertama dan utama untuk dipelajari. Tentang unsur musik, semisal notasi, birama, irama, tempo, dinamika, itu sangat mudah dipelajari apabila para siswa benar-benar paham, mengapa mereka harus punya kepribadian baik dulu?, karena ini sangat penting dan merupakan panduan atau menjadi pedoman untuk keberlangsungan hidup selanjutnya, ke jenjang yang lebih tinggi.
 
Pembelajaran karakter yang sering dilakukan adalah:
  1. Cinta Kepada Tuhan, yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) selalu berdoa sebelum dan sesudah latihan berlangsung.
  2. Tanggung Jawab,  yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) sadar akan tugas dan kewajiban mereka. Peka terhadap informasi latihan paduan suara.
  3. Disiplin, yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) berusdaha sekuat tenaga 'mencintai' waktu, dan berusaha untuk tidak telat untuk berlatih PS.
  4. Mandiri, yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) berusaha untuk bisa mengatur dan memanajemen diri sendiri, khusus untuk datang latihan, menyiapkan partitur, belajar lagu, dan lain-lain.
  5. Toleransi, yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) berusaha untuk menghargai tradisi dan ajaran agama sesama anggiota paduan suara. 
  6. Berjiwa Pemimpin, yakni guru (pelatih) dan siswa (peserta PS) melatih untuk bisa menjadi dirigen yang baik dalam memimpin team paduan suaranya. Juga dapat membentuk organisasi kecil dalam paduan suara guna menjadi pemimpin-pemimpin kecil dalam team.

Masih banyak lagi pendidikan karakter lainnya. Ini hanya sebagian saja. Tulisan selanjutnya (part 2) akan lebih rinci lagi tentang manffat yang sesungguhnya dari berpaduan suara. Ia mempunya gaung yang kecil, tetapi dapat mengguncangkan sebuah peradaban atau sistim yang sudah lama berlaku di sebuah instansi atau lembaga pendidikan. Intinya, apa yang kita kerjakan harus bernilai luhur, indah (estetis) dan tidak boleh setengah-setengah.

"Cukup dengan cara jujur saja memperjuangkan keindahan. 
Benar-benar harus bekerja yang benar. 
Dari hati yang tulus. 
Karena apa yang datang dari hati-nadinya keindahan-, akan sampai ke hati pula"


berambung, bersumbang!











Rabu, 22 Agustus 2018

PENJARA SADIS ITU BERNAMA 'Smartphone' (1)



"Ayo, bangun. Alangkah indahnya bila kita doa pagi dan siapkan sarapan pagi bersama seisi rumah"

"Tunggu sebentar, masih balas chatting-nya teman"

(ternyata setengah jam)

***

"Anak-anak, hari ini kita ulangan materi yang kemarin. Ibu ninggalin kalian 30 menit ya. Ibu ada urusan penting di ruang kurikulum. Kerja jujur dan jangan nyontek"

"Baik bu... Siap!!!"

(ternyata jari jemari sibuk kutak-katik mencari materi di opa google. Ia tidak belajar. Tiap hari modal nyontek di hp)


***

"Nona, sebentar sore sepulang sekolah bantu mama cuci piring dan sapu halaman ya...Mama lagi kurang enak badan"

"Siap ma. Tenang sa. Pasti dikerjakan"

(ternyata sepulang sekolah masih singgah di kantin samping sekolah, hanya untuk 'menumpang wi-fi' guna bermain game online)

***

"Teman-teman, kita diminta untuk berdonasi bagi korban bencana Alam di Lombok. Harap partisipasi teman-teman"

"Gampang tuh..mau berapa?"

(ternyata tidak berdonasi. Uang tabungannya lebih memilih untuk mengisi pulsa data untuk keperluan judi online)

***

"Hay, teman-teman. Sebentar sore kita  jogging bareng ya. Pkl. 15:00"

"Okay bro..."

(ternyata sibuk kutak-katik, 'bolak-balik' kunjung media sosial. Keasyikan 'bertuan' ke media sosial hingga tidak peduli waktu. Keesokan harinya ketika ditanya, alasannya ketiduran)


***

"Anak-anak, media sosial dapat kita manfaatkan untuk mengkampanyekan pola hidup sehat, hindari narkoba, jaga kebersihan, dan lain-lain. Maanfaatkan itu seefektif mungkin untuk kebaikan, ya"

"Ah...gampang. Ibu tak perlu jelaskan. Sering kami lakukan setiap hari,"

(ternyata tiap hari sibuk posting ujaran-ujaran kebencian, kata-kata kasar, sesuatu yang berbau pornografi, SARA, dan kebusukan lainnya)

***

"Hallo, teman-teman. Hari ini saya ulang tahun. Saya ajak kita ke cafe. Kita cerita dan ngakak bareng disana. Sekedar untuk refreshing. Daripada belajar melulu..."

"Hore.....yes. Siap.... Kita ramaikan!"

(ternyata sampai disana, basa-basi 5 menit, jepret sana jepret sini, dan serempak semuanya tunduk terdiam, masing-masing sibuk 'bertuan' pada smartphone)

***

"Nak, bantu ambilkan segelas air untuk ibu. Dada ibu sakit..."

"Iya, ma. Tunggu 5 menit ya, ma. Ini film sedang saya download. Sudah 80%. Saya tidak boleh beranjak dari posisi ini, karena jaringannya lagi bagus"

(ternyata lima menit sesudahnya, ia mendapatkan ibunya sudah jatuh tergeletak di lantai karena jantungan. Nasi sudah jadi bubur!)


***


lalu, adakah yang lebih kejam dari kejadian-kejadian diatas?
kepada siapakah kita bertuan?
kepada kemalasan?
kepada kebegoan?
kepada keangkuhan?
kepada kekotoran?

sehingga semuanya menjadi jelas. 
Tentang smartphone; HP-nya yang smart, tetapi penggunanya terpenjara 
oleh kesadaran yang menyesatkan
sadis
kejam
penjara
terpenjara
memenjarakan diri sendiri




(bersumbang-bersambung)


Senin, 20 Agustus 2018

NIKMAT SENI JADI GURU (1)




Persoalan tentang dan menjadi guru serasa sudah menjadi hal yang urgen untuk diperbincangkan. Ada yang 'mengklaim' bahwa guru itu pahlawan, guru itu pejuang, guru itu 'pemberi hidup' bagi kebanyakan orang (profesi). Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa guru itu menjadi 'kekuatan super' dan 'roh' penggerak proses pendidikan di Indonesia (ataupun dunia). Ia membuka jalan, ia memberikan petunjuk, menuntun, membimbing, serta 'menjebak' kebanyakan orang ke jalan yang benar. Jalan yang semua orang juga dambakan, yakni kesuksesan.

Guru milenial SMA N 4; Ibu Rany, Ibu Melan, Ibu Novi,
Ibu Waty, Ibu Reny, Ibu Marta, dan beta..
 Kupang-NTT

Lalu muncul berbagai 'tantangan hidup' yang dialami guru. Mengenai gaji, tunjangan, perlindungan hukum, dan lain-lain. Ada kesenjangan antara honorer dan guru PNS. Ada kesenjangan antara guru dan orang tua. Uh... pokoknya 'asyik' untuk dijadikan beban hidup.

Kebanyakan orang berpikir bahwa menjadi guru itu pekerjaan ringan. Pergi jam 7:00, pulang jam 13:00. Sore sampai malam free. Sebenarnya betul juga, tetapi tidak banyak yang tau bahwa setumpuk masalah dan pekerjaan di sekolah terkadang dibawa serta ke rumah. Masalah kenakalan anak didik, nilai anak didik yang tidak berkembang, karakter labil, terkadang masalah dengan teman guru, PR, tugas, ujian, dan masih banyak lainnya. Bayangkan saja 'ruwetnya' barang-barang itu. "Tidak kuat bisa mati berdiri", ujar bebrapa teman-teman guru.

Sebenarnya ada berjuta kenikmatan lain dibalik itu. Ada udang dibalik batu. Ada sesuatu dibalik masalah-masalah itu, yang mestinya dilihat sebagai the power, energi yang luar biasa tuk jalani profesi. Maksudnya, ada banyak berkah menjadi seorang guru.

Ada beberapa kenikmatan (seni) menjadi seorang guru. Ini saya share berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi saja.

Bertemu (interaksi) makhluk hidup

Makhluk hidup yang dimaksudkan disini tentunya manusia itu sendiri. Sangat berbeda apabila bekerja berhadapan dengan benda mati. Misalnya komputer, mesin, dan lain-lain. "Mereka" tidak akan bergerak tanpa respon dari kita. Membosankan. Tetapi apabila bertemu 'makluk hidup' pekerjaan bisa jadi fresh, nikmat memang. Betapa luhur dan indahnya apabila setiap saat saling berinteraksi dengan sesama, bertegur sapa, bercanda, dan lain-lain. Peserta didik adalah aset berharga yang bisa diajak untuk tertawa dan ngakak bareng. Terkadang kepolosan dan ketidaktahuan mereka, menjadikan kita semakin asyik untuk berdialog dan bercanda bersama. Bahagia jadinya.

Siswa milenial berprestasi; Ines Smol, Agatha Woli, Stefani Simanjuntak
SMA N 4 Kupang-NTT

Selalu update

Ya, apalagi menjadi guru jaman now. Kita akan mendapatkan informasi baru hampir tiap hari. Apabila kita tidak mengikuti perkembangan informasi, pasti ada saja siswa milenial, siswa jaman now yang super duper cerdas. Mereka biasanya spontan bercerita tentang apa yang mereka ketahui. Nah, tugas guru juga mestu update, biar bisa mengimbangi siswa. Bisa meng-update dari Berita di Media ataupun informasi lainnya. Nikmat jadinya. Otak selalu cair.

'Bebas' berkreasi

Bebas disini bermaksud bahwa setiap guru berhak menentukan model dan metode pembelajaran di sekolah. Apabila bosan di dalam kelas, bisa merancang model dan metode PBM (Proses Belajar Mengajar) diluar kelas. Mencari pohon yang rindang, ataupun tempat yang sejuk lainnya di lingkungan sekolah. Apabila masih bosan juga di lingkungan sekolah, PBM juga bisa mengunjungi tempat wisata, baik wisata alam, wisata budaya, maupun wisata sejarah. Ini kesempatan 'bolang' bersama anak didik. Sambil nyanyi-nyanyi, 'cuci mata', dan menghirup udara segar. Ini salah satu seni yang sangat Indah. Segaaarrrrr.....

Libur 'sesukanya'

Nah, mengenai liburan adalah waktu yang didambakan semua profesi. Karena bisa relaksasi dan menimba semangat baru untuk 'tancap gas' kerja lagi. Tetapi menjadi guru sangatlah 'bebas'. Tidak dapat dipungkiri bahwa guru bisa mengatur 'liburan' sendiri. Tetapi ini bukan liburan yang tinggal di rumah, atau jalan-jalan ke tempat wisata. Liburan mengajar maksudnya. Apabila kurang fit, guru bisa saja masuk kelas dan memberikan 'ulangan dadakan' ke siswa. Sambil simpan tenaga untuk kembali 'segar'. Juga bisa 'sengaja' menyuruh siswa membaca atau meringkas sendiri materinya. Nah, pertanyaannya; apakah ini salah? jawbannya, nikmat seni jadi guru ya salah satunya seperti ini. Harap bapak ibu guru sepakat tentang hal ini. Hehehe...

Long life education

Seperti halnya update informasi, guru yang baik adalah guru yang mampu menemukan dan mendapatkan ilmu dari anak didiknya.
Guru tidak boleh sombong mengatakan bahwa
ia sebagai satu satunya sumber belajar. Karena tanpa disadari, ada siswa yang mempunyai 'kemampuan' lebih, kecerdasan lahiriah yang bisa dijadikan sumber ilmu. Kita bisa belajar sepanjang hayat dari 'kejadian' seperti ini. Semakin cerdas kita memberikan banyak ilmu kepada siswa, sesungguhnya semakin banyak kita mendapatkan hal baru yang bisa dijadikan ilmu dan referensi kehidupan.
Asyiiiikkk....

Mengenal intens Indonesia

Lingkungan tempat kita mengabdi itu adalah gambaran dari 'indonesia kecil'.
Disana bisa kita temukan ratusan kultur, budaya, etnis, macam agama, corak hidup, tingkah laku, dan lain-lain. Belajar Indonesia cukup dengan kita intens mengenal aspek-aspek ini.
Itu Indonesia Raya. Ada disana. Jaga dan pelihara!

********

Ini bebrapa catatan singkat (part 1) tentang nikmat seni jadi guru, nantikan olesan eh ulasan selanjutnya!

Berguru pada guru yang benar
+








Minggu, 19 Agustus 2018

JONI, BOCAH PENAKLUK 'TIANG KEBODOHAN' NTT

''... sa sakit perut. Saya lari, lepas sepatu dan panjat langsung memang. Sa mau, bendera merah putih tetap berkibar''.

Bocah kampung itu bernama lengkap Johanis Gama Marchal Lau. Ia biasa disapa Joni. Usianya baru 14 tahun. Masih sangat 'polos' dan belia. Ia anak bungsu dari kesembilan bersaudara. Orang tuanya adalah bekas pejuang integrasi Timor Timur yang 'memilih setia' menjadi warga negara, pemilik Merah dan Putih.
Joni bersama kedua orang tuanya. "Pahlawan jaman now''

Cerita panjang-lebar bocah kampung ini sudah tersebar luas ke pelosok negeri ini. Ya, keberaniannya menaklukan rasa takut kebanyakan orang, menjadikan ia 'pahlawan' sehari. Penakluk tiang bendera puluhan meter di ujung Tenggara Indonesia. Tanpa takut, gentar, ataupun perasaan iba. "sa mau, bendera merah putih tetap berkibar". Kata-kata yang polos, keluar dari mulut 'pahlawan' cilik ini. Entah ia memikirkan apakah makna kalimat uini dalam atau berarti, tetapi kepolosannya telah mengubah persepsi bangsa tentang 'memaknai' kemerdekaan.

***
Sahabat bloggers, saya juga salah satu anak kampung. Melihat aksi si Joni, kami anak-anak kampung melihatnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bagaimana tidak, sekitar 20an tahun yang lalu tempat bermain kami itu diatas pohon, kayaknya sama seperti Joni. Bersama sahabat-sahabat se kampung, kami bermain Anjing dan Monyet. Yang berperan sebagai Anjing berada di tanah, ia wajib 'menggonggong' dari satu pohon ke pohon lain, sambil menunggu jatuhnya si Monyet dari pepohonan. Yang berperan menjadi Monyet, harus lihai berlarian dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Ia wajib bergelantungan dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Semakin ia 'jago' melakukan aksinya, dan ia tidak jatuh, berarti ia pemenangnya. Tetapi yang juara, ditentukan oleh kepiawaian bergelantungan dan 'berlari' dari pohon yang satu ke pohon yang lain.

Aksi Joni bukanlah aksi yang luar biasa. Dimata kami anak-anak kampung, aksinya terbilang 'datar'. Hanya memanjat tiang lurus. Saya membayangkan ia sedang memanjat pohon Pinang. Walaupun pohonnya tinggi, tetapi tekstur batangnya sudah terbiasa dengan tiupan angin kencang. Apalagi bila anak kecil memanjatnya, pohon itu seakan 'sengaja' melengkungkan batangnya kesana-kemari. Seakan mau bergembira ria, bercanda, seakan tertawa dan memang tidak akan mencedarai anak itu. Karena pada hakikinya, anak kampung lebih bersahabat dengan alam. Alam menjadi landasan hidup dan lambang kesejahteraan. Alam juga dalah jati diri, tempat bersemayam karakter anak anak kampung.

***
Ia segera berlari ke arah tiang itu. Ada yang bilang, itu kisah heroiknya. Saya sebagai anak kampung sangat terharu dengan keberanian aksinya itu. "Pohon yang berisikan "buah'' Merah Putih itu harus tetap dijaga. Tidak boleh terganggu. Tidak boleh kacau. Harus berdiri dengan gagah berani. 'Berkibar' di langit yang biru. Tidak boleh ada yang menghalanginya. 

Saya menilai, aksi heroiknya itu sedikit beda dengan kami anak anak kampung lainnya. Karena 'diatraksikan' pada waktu yang tepat. Sebuah hadiah terindah yang ia berikan untuk Indonesia Raya, Negeri yang elok dan perkasa. Ia berhasil mematahkan stigma 'bodoh' yang selama ini disematkan untuk NTT. Bagaimanapun juga, NTT sering berada di barisan bawah rangking skala nasional. Bahkan sekelas menteri Pendidikan pernah mengatakan bahwa NTT bodoh. Dalam pernyataan resminya, Mendikbud mengatakan itu setelah melihat laporan PISA, menyebutkan bahwa kualitas pendidikan RI yang anjlok itui karena mereka mengambil sampel penelitian di NTT. Beliau pernah berujar "saya khawatir, yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswi NTT semua''. 


Senyuman kebahagiaan
Senyum sumringah. "Beta cinta Indonesia"

Aksi heroik Joni mematahkan ungkapan publik yang selalu menyatakan bahwa NTT bodoh dan tidak bisa apa-apa. Joni hanya mau menegaskan bahwa mungkin secara rerata nilai, NTT anjlok. Tetapi anak-anak NTT sedang mengedepankan aspek karakter dan jiwa juang dalam menuntaskan pendidikannya. Dengan segala keterbatasan, menggunakan kemampuat tradisional ala anak kampung, ia berhasil 'mengharumkan' nama NTT. Keberaniannya selalu dikenang, bahwa urusan menjaga bangsa, urusan mencintai tanah air, tidak hanya dilakukan oleh orang-orang pintar, yang tiap hari bergaul dengan internet, gadget, smartphone, game online, dan lain-lain. Tetapi karekter yang kuat, dapat menjadikan kita "pahlawan jaaman now'.

Saya secara sadar selalu berujar pada anak didik saya di sekolah, bahwa nilai itu bukan satu satunya penentu anda nantinya akan hidup baik  di masa depan. Tetapi, karakter yang baik sangat membantu mereka untuk memenangkan hidup; menjalankan dan menerima kebaikan di masa mendatang. Karakter harus diutamakan. Numnero uno!

Karakter Nasionalis, jiwa juang, pemberani, kejujuran, itulah yang "dipentaskan Joni di kampung halamannya. Saat ini banyak 'penghargaan' dan hadiah yang ia terima. Tetapi itu tidak akan berarti apabila ia berhenti hari ini. Masih banyak tiang-tiang ketimpangan yang mesti dipanjat di masa mendatang. Generasi, anak-anak remaja, anak-anak muda NTT harus bisa berani seperti Joni. 'Memanjat' tiang-tiang kemalasan, tiang-tiang kebodohan yang selalu berdiri tegak di NTT. 

Joni, nantinya hanyalah sebuah 'legenda'. Mungkin tidak lagi terulang kejadian seperti itu. Tetapi jiwa Nasionalis untuk beri hadiah bagi bangsanya, adalah prestasi terbesar bangsa. Ya, kerja kita, prestasi bangsa! Patut dinantikan aksi aksi heroik remaja polos dari NTT berikutnya, yang berhasil 'menggemparkan' jagat bangsa ini.

Siapa kita?
INDONESIA



Namaku 'Kampanye Damai'

Kemarin saya ditabiskan dengan nama baru. Panggil saja saya 'kampanye damai'. Sebuah nama yang diberi oleh para petinggi bangsa. Ya,...